Namaku Farras Ramadhnoor, aku adalah anak kelahiran 9 Maret 1993 di daerah ibu kota Jakarta. Aku sempat tinggal di Jakarta hanya beberapa tahun saja, karena kedua orang tuaku bekerja di Jakarta. Keduanya adalah seorang PNS, ayahku bekerja di Departemen Keuangan, sedangkan ibuku bekerja di RS Polri. Sudah lama sekali mereka menekuni pekerjaan mereka itu. Semasa balita, aku selalu dibawa oleh ibuku ketika ia ingin bekerja. Selang beberapa tahun kemudian, ketika aku sudah mulai merangkak saya diasuh dengan orang yang berbeda-beda, terkadang diasuh oleh tetangga sebelah, bahkan eyang kakung (kakek) pun pernah mengasuh aku. Tahun 1995, adikku pun lahir, dia seorang perempuan. Kelahiran adikku yang pertama, membuat ibu mencari seorang pembantu untuk membantu ibuku dalam mengasuh kami berdua.
Ketika aku berusia 4 tahun, kami sekeluarga pindah ke perbatasan antara kota Bogor dan Depok yaitu Cibinong, tepatnya di perumahan Pondok Widyatama Indah. Perumahan yang tidak terlalu elite dan pada saat itu belum terlalu banyak masyarakatnya. Banyak anak-anak yang seusiaku yang bisa diajak bermain bersama-sama, dari permainan kelereng, petak umpet, main bola, berpetualang mengelilingi sawah dan lain-lain. Permainan yang paling berkesan yaitu ketika berpetualang dengan teman-temanku, kami menemukan hal-hal baru yang belum pernah kami temukan. Dengan sedikit imajinasi kecil kami, semunya jadi terlihat menggumkan. Ketika menemukan sebuah kali, secara reflek kami melemparkan batu itu ke kali. Kami berkompetisi melempar batu paling jauh dan paling menghasilkan gelombang yang besar ketika batu yang telah dilempar jatuh ke air.
Semasa kecil, aku dinilai anak yang sudah bisa membaca dan menghitung oleh orang tuaku. Tidak salah mereka langsung memasukkan aku ke SD. Namun selama di SD aku selalu malas belajar, akhirnya setiap pembagian rapot nilaiku selalu merah. Selain malas, di sekolah aku terkenal bandel tapi cengeng dan suka nyanyi dangdut ketika guruku mengajar di depan kelas, bahkan pernah aku mengolok-olok guru yang sedang mengajar didepan. Akhirnya, ketika duduk di kelas 3 SD dan ingin beranjak ke kelas 4 SD, guru-guru pun tidak menaikkan aku. Orang tuaku pun memarahi aku karena selalu malas pada saat belajar yang pada akhirnya membuat aku tidak naik kelas. Disamping malas belajar, aku juga malas beribadah terutama shalat lima waktu. Aku shalat ketika orang tuaku berada di rumah saja, tapi ketika orang tua mendapati aku tidak shalat, mereka marah besar terutama ayahku. Dan tidak hanya itu, mencuri uang orang tua dan pembantuku adalah kebiasaan yang selalu aku lakukan, sampai-sampai ibu aku menangis karena tidak sanggup menasehati aku yang selalu mengulangi kesalahan yang sama. Kadang terlintas dipikiranku untuk kabur dari rumah karena tekanan negatif yang selalu menghantui diriku.
Pada suatu saat, entah hal unik apa yang aku alami. Muncullah sebuah program TV yang bernama Rahasia Ilahi, ketika menonton acara tersebut aku merasa ingin sekali ada perubahan dalam diriku, aku ingin mencoba untuk selalu mematuhi nasihat orang tua saya meskipun banyak sekali cobaan. Mungkin itulah hidayah yang dikaruniakan Allah SWT kepada saya. Alhamdulillah...