Monday, August 5, 2013

Belajar Bahasa Arab Penuh Semangat

Hari demi hari telah terlewati, dan ini adalah hari pertama masuk sekolah. Belum memakai seragam apapun karena belum diberikan dari pihak sekolahnya. Tapi itu menjadi masalah untuk pergi ke sekolah haha. Pelajaran bahasa Arab adalah pelajaran yang pertama kali aku temui, dan yang mengajar adalah murabbyku sendiri yaitu Ustadz Dedi Suryadi Batu Bara.

Yang pertama aku lihat dari sosoknya yang hitam dan keras ini pasti ustdaz ini ustadz yang galak dan killer, tapi aku tak peduli yang penting aku belajar. Pelajaran pun dimulai, dia pun memuali dengan lantang kata-kata yang kuingat pertama kali yaitu ciri khas nada salam pembukanya "Bismillahi assalammu "alalikum wr wb" sambil mendangakan kepalanya dan dengan suara lantang. Sangat pas sekali dengan tampangnya yang seperti itu dan suara yang keras dan agak serak-serak. Penampilan yang dia perlihatkan kepada kami seperti gaya anak muda zaman sekarang baju kemeja, dengan dasi bergambar terompet, celana bahan gombrong tapi ngepres di paha, dan ada banyak gantungan kunci yang menggantung di ikat pinggangnya. "Nih ustadz apa model ya". 

Pelajaran pun dimulai, pertama ustadz dedi memperkenalkan namanya dengan bahasa arab kami pun serentak mengatakan amin karna tak tahu apa yang dibicarakannya. Selanjutnya kami mencoba satu persatu memperkenalkan diri dengan bahasa arab. Diakhir pertemuan ustadz dedi pun memberikan mufradaat/kosa kata yang harus kita hafal.

Ciri-ciri ustadz Dedi mengajar bahasa arab yaitu dengan nyanyian-nyanyian, pantas saja karena dia juga pelatih Marching Band Sahid. Tapi disitu aku lama kelamaan jadi jatuh cinta dengan bahasa arab bagian yang paling saya suka yaitu ketika ustdaz memberikan kosa kata dengan suara yang lantang kami pun menjawab dengan suara lantang pula seolah tak mau kalah dari suara ustdaz. Karena kesukaan aku terhadap pelajaran bahasa arab ini aku pun selalu mendapat nilai yang bagus bahkan tertinggi di kelasku. "hebat juga ya ane hmm".  

Wednesday, May 15, 2013

Dari MOS jadi suka

Beberapa hari di pesantren tidak membuatku jenuh sama sekali, karena banyak bertemu dengan teman-teman dari bangun tidur sampai mau tidur lagi "hah masa-masa yang tak terlupakan". Mulai lah saatnya kami santri-santri baru mengikuti MOS atau Masa Orientasi Siswa atau Santri. Disitu kami akan bertemu dengan kakak senior yang akan memberikan kita games, mengelilingi PPM Sahid, dan pastinya ada kotor-kotorannya juga. Sebelum itu, kami dibagi-bagikan kelompoknya masing-masing. Kalau tidak salah aku sekelompok dengan Pandu, Ukasah, Adhit, dan Bezzy lalu dengan anak dari lantai lain dan aku lupa hehe.

Kegiatan MOS pun dimulai, kami berbaris sesuai kelompok kami masing-masing. Lalu datang anak-anak santriwati dari balik bukit yang tinggi itu untuk bergabung. Asrama santriwati dan santriwan pada saat itu dibatasi oleh bukit yang menjulang. Jadi kalau kami atau santriwati ingin pergi ke daerah santriwan atau santriwati harus melewati tanjakan yang tinggi yang bernama Jl. Bahagia "nama yang tidak sesuai". Ketika anak-anak santriwati datang, tiba-tiba aku melihat sosok wanita yang bersinar diantara wanita-wanita yang lain, meskipun aku tidak tahu siapa namanya, tapi dia sudah memikat hatiku "aduuh padahal masih anak baru ckck". 

Masing-masing kelompok pun mulai berjalan satu per satu. Dan kelompok kami pun juga mulai berjalan. Dalam perjalanan aku terus memikirkan sosoknya, aku ingin tahu siapa namanya. Beberapa pos sudah kami lewati dan rintangan-rintangan yang diberikan kakak senior sudah kami lewati juga. Kakak senior yang pertama kali aku kenal yaitu Ka Adhit dia kelas 9, kemudian ka Wiwin kelas 12, dan Ka Wina kelas 11. Setiap melewati pos-pos, kami selalu ngedumel karena muka dan baju-baju yang kami kenakan kotor semua. Tapi akhirnya kami bawa enjoy aja. Dan aku pun tetap memikirkan paras cantik itu, terus memikirkan namanya.

Akhirnya kelompok kami pun sampai di pos terakhir, dan disitu sudah ada kelompok-kelompok lain yang sudah sampai duluan. Terlihat sudah ada teman sekamarku Faisal dan Eki, kelompok mereka sudah sampai lebih dulu daripada kelompok kami. Di pos terakhir itu kami disuruh memperkenalkan diri kami dan menampilkan yel-yel kami. Lalu muncul lagi kelompok-kelompok lain, dan salah satunya kelompok wanita itu. Hatiku mulai berdebar-debar karena dia akan memperkenalkan dirinya. Namanya yang begitu aku idam-idamkan akhirnya aku ketahui yaitu Dian Pertiwi. Nama yang sama dengan Ibuku dan mempunyai paras yang cantik dan juga tampil percaya diri "perfecto lah". Dan disitu aku mulai suka sama dia, karena aku orangnya pemalu dan pendiam jadi aku ingin melihat sikap dia lebih dekat lagi. Mungkin beberapa hari lagi atau beberapa minggu lagi bertemu dengan dirinya asiiiik daaah...        

Sunan Bonang 302


Ada dua asrama santriwan dan dua asrama santriwati pada saat itu. Seingatku, kamar pertama kali yang aku tempati kamar 302 di asrama Sunan Bonang yang bersebelahan dengan asrama Sunan Kalijaga. Setiap asrama berisi empat lantai dan lima kamar setiap lantainya. Disitu aku menjadi pendatang pertama karena aku datang pagi-pagi sekali. Dan aku lihat ada lima kasur di dalam kamar tersebut "berarti satu kamar ada lima orang ya" Tuturku. Aku pun langsung membereskan barang-barang bawaan ke lemari yang sudah disediakan sambil istirahat menunggu waktu zuhur tiba.

Tak lama kemudian datang seseorang yang akan menjadi teman sekamarku yaitu Bezzy Mensky Kiefer Sutherland (kalo gak salah hehe) "Wah namanya agak kebarat-baratan ya" tapi ternyata benar bahwa ayahnya adalah keturunan Belanda. Dia adalah orang Jakarta dan rumahnya dekat sekali dengan RS Polri tempat Ibuku bekerja.

Waktu zuhur pun tiba, aku dan Bezzy pun bergegas ke mesjid untuk shalat berjamaah pertama kali. Sepulang dari mesjid, sudah datang lagi tiga teman sekamarku yang bernama Faisal Budi Kusuma, Eki Setiadi, dan Adhitya Ibarda Putra. Akhirnya lengkap sudah teman sekamarku dan kami mulai mengakrabkan diri kami masing.

Orang tua kami pun pulang, aku begitu sedih karena ditinggal mereka. Disini aku harus serba mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain. Ketika aku berbaur dengan teman sekamarku dan teman-teman selantai denganku, kesedihanku mulai pudar. Aku mulai kenal dengan Pandu Utomo, M Wahyu Hidayat, M Ridwan, Bari Budiarta, M Ukasah, Deni Priyanka, Rahmat Khadifa, Ahmad Husain dan lain-lain. Tapi tidak bagi Adhit, dia tetap sedih ditinggal orang tuanya. Meskipun aku dan teman-teman sekamarku sudah menenangkannya tetap saja dia menangis. Sampai-sampai dia diolok-olok oleh anak kamar lain. Tapi ketika Ustadz Izzudin Nu'ad datang untuk mengingatkan kami shalat magrib, beliau pun juga menenangkan Adhit yang masih sedih. Dan akhirnya adhit pun bisa tenang dan kami pun pergi ke masjid bersama-sama.     








Sunday, March 24, 2013

Pondok Pesantren Modern Sahid

Masa SD pun berlalu, aku yang tadinya memakai seragam putih merah sebentar lagi akan berganti menjadi putih biru. Sangat tak terasa ya..!! Tapi yang menjadi permasalahan dalam diriku adalah dimana SMP yang terbaik buat diriku?
 
Aku bertanya kepada ayah tentang kebingugan ini. Ayah pun memberi solusi kepadaku untuk melanjutkan ke Pesantren. Kata-kata itu belum pernah aku dengar, Aku bertanya kepada ayah lagi "Apa itu Pesantren ?". Lalu ayah menjelaskannya kepadaku "Pesantren itu tempat kita belajar agama dan nanti kakak tinggal di asrama" Jelas Ayah. Setelah ayah menjelaskannya, Aku mulai tertarik namun yang mengganjal dihati yaitu jauh dari rumah dan orangtua "tapi apa salahnya kalu tidak dicoba" ungkapku dalam hati.


Aku dan ayah saya mulai mencari tempat pesantren yang bagus, nyaman, dan pastinya yang cocok buatku pribadi. Dari Sukabumi, lalu ke Depok, dan pada  akhirnya Bogorlah yang menjadi tempat berlabuh terakhirku. Namanya Pondok Pesantren Modern Sahid, kata "Sahid" itu sendiri diambil dari nama pendirinya yaitu Bpk. Sukamdani Sahid Gitosardjono. Pesantren yang usianya masih muda itu mempunyai tanah yang sangat luas, kemudian ada banyak sekali tanjakan-tanjakan yang bisa ditemui disana.

Aku merasa sangat nyaman sekali di tempat ini, bisa kurasakan kalau aku belajar disini pasti akan nikmat sekali "Wah pasti enak nih hmm" Pikir saya. Akhirnya aku menentukan untuk sekolah disini di Pondok Pesantren Modern Sahid.