Wednesday, May 15, 2013

Dari MOS jadi suka

Beberapa hari di pesantren tidak membuatku jenuh sama sekali, karena banyak bertemu dengan teman-teman dari bangun tidur sampai mau tidur lagi "hah masa-masa yang tak terlupakan". Mulai lah saatnya kami santri-santri baru mengikuti MOS atau Masa Orientasi Siswa atau Santri. Disitu kami akan bertemu dengan kakak senior yang akan memberikan kita games, mengelilingi PPM Sahid, dan pastinya ada kotor-kotorannya juga. Sebelum itu, kami dibagi-bagikan kelompoknya masing-masing. Kalau tidak salah aku sekelompok dengan Pandu, Ukasah, Adhit, dan Bezzy lalu dengan anak dari lantai lain dan aku lupa hehe.

Kegiatan MOS pun dimulai, kami berbaris sesuai kelompok kami masing-masing. Lalu datang anak-anak santriwati dari balik bukit yang tinggi itu untuk bergabung. Asrama santriwati dan santriwan pada saat itu dibatasi oleh bukit yang menjulang. Jadi kalau kami atau santriwati ingin pergi ke daerah santriwan atau santriwati harus melewati tanjakan yang tinggi yang bernama Jl. Bahagia "nama yang tidak sesuai". Ketika anak-anak santriwati datang, tiba-tiba aku melihat sosok wanita yang bersinar diantara wanita-wanita yang lain, meskipun aku tidak tahu siapa namanya, tapi dia sudah memikat hatiku "aduuh padahal masih anak baru ckck". 

Masing-masing kelompok pun mulai berjalan satu per satu. Dan kelompok kami pun juga mulai berjalan. Dalam perjalanan aku terus memikirkan sosoknya, aku ingin tahu siapa namanya. Beberapa pos sudah kami lewati dan rintangan-rintangan yang diberikan kakak senior sudah kami lewati juga. Kakak senior yang pertama kali aku kenal yaitu Ka Adhit dia kelas 9, kemudian ka Wiwin kelas 12, dan Ka Wina kelas 11. Setiap melewati pos-pos, kami selalu ngedumel karena muka dan baju-baju yang kami kenakan kotor semua. Tapi akhirnya kami bawa enjoy aja. Dan aku pun tetap memikirkan paras cantik itu, terus memikirkan namanya.

Akhirnya kelompok kami pun sampai di pos terakhir, dan disitu sudah ada kelompok-kelompok lain yang sudah sampai duluan. Terlihat sudah ada teman sekamarku Faisal dan Eki, kelompok mereka sudah sampai lebih dulu daripada kelompok kami. Di pos terakhir itu kami disuruh memperkenalkan diri kami dan menampilkan yel-yel kami. Lalu muncul lagi kelompok-kelompok lain, dan salah satunya kelompok wanita itu. Hatiku mulai berdebar-debar karena dia akan memperkenalkan dirinya. Namanya yang begitu aku idam-idamkan akhirnya aku ketahui yaitu Dian Pertiwi. Nama yang sama dengan Ibuku dan mempunyai paras yang cantik dan juga tampil percaya diri "perfecto lah". Dan disitu aku mulai suka sama dia, karena aku orangnya pemalu dan pendiam jadi aku ingin melihat sikap dia lebih dekat lagi. Mungkin beberapa hari lagi atau beberapa minggu lagi bertemu dengan dirinya asiiiik daaah...        

Sunan Bonang 302


Ada dua asrama santriwan dan dua asrama santriwati pada saat itu. Seingatku, kamar pertama kali yang aku tempati kamar 302 di asrama Sunan Bonang yang bersebelahan dengan asrama Sunan Kalijaga. Setiap asrama berisi empat lantai dan lima kamar setiap lantainya. Disitu aku menjadi pendatang pertama karena aku datang pagi-pagi sekali. Dan aku lihat ada lima kasur di dalam kamar tersebut "berarti satu kamar ada lima orang ya" Tuturku. Aku pun langsung membereskan barang-barang bawaan ke lemari yang sudah disediakan sambil istirahat menunggu waktu zuhur tiba.

Tak lama kemudian datang seseorang yang akan menjadi teman sekamarku yaitu Bezzy Mensky Kiefer Sutherland (kalo gak salah hehe) "Wah namanya agak kebarat-baratan ya" tapi ternyata benar bahwa ayahnya adalah keturunan Belanda. Dia adalah orang Jakarta dan rumahnya dekat sekali dengan RS Polri tempat Ibuku bekerja.

Waktu zuhur pun tiba, aku dan Bezzy pun bergegas ke mesjid untuk shalat berjamaah pertama kali. Sepulang dari mesjid, sudah datang lagi tiga teman sekamarku yang bernama Faisal Budi Kusuma, Eki Setiadi, dan Adhitya Ibarda Putra. Akhirnya lengkap sudah teman sekamarku dan kami mulai mengakrabkan diri kami masing.

Orang tua kami pun pulang, aku begitu sedih karena ditinggal mereka. Disini aku harus serba mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain. Ketika aku berbaur dengan teman sekamarku dan teman-teman selantai denganku, kesedihanku mulai pudar. Aku mulai kenal dengan Pandu Utomo, M Wahyu Hidayat, M Ridwan, Bari Budiarta, M Ukasah, Deni Priyanka, Rahmat Khadifa, Ahmad Husain dan lain-lain. Tapi tidak bagi Adhit, dia tetap sedih ditinggal orang tuanya. Meskipun aku dan teman-teman sekamarku sudah menenangkannya tetap saja dia menangis. Sampai-sampai dia diolok-olok oleh anak kamar lain. Tapi ketika Ustadz Izzudin Nu'ad datang untuk mengingatkan kami shalat magrib, beliau pun juga menenangkan Adhit yang masih sedih. Dan akhirnya adhit pun bisa tenang dan kami pun pergi ke masjid bersama-sama.