Ekskul silat saja membuat saya sedikit jenuh dalam menjalani kehidupan di pesantren. saya pun mulai ikut-ikut lagi yang sebenarnya saya cuma ikut-ikutan temen aja, ya maklum lah masih labil getooh hehe. Akhirnya saya ikut temen sekamar saya yang ikut ekskul Arabic Club, karena menurut saya bahasa arab saya cukup bagus untuk mengikuti ekskul itu dan mungkin akan meenjadi progres yang baik buat saya kedepannya. Tapi itu tidak berjalan lama, entah kenapa tiba-tiba ekskul itu tidak berjalan lagi dan saya pun galau. Lalu saya ikut ekskul Jami'atul Qari', saya mengikutinya dengan penuh hikmat. Tapi itu pun sama tidak berjalan dengan lama. Lalu saya ikut Kitab Kuning dan Kaligrafi, sama itu juga tidak berjalan lama. Semua yang saya ikuti itu paling banter cuma beberapa bulan saja lah gak sampai setahun lebih, ada sih yang setahun yaitu Qari' hehe. Tapi bagi saya itu sudah cukup, meskipun hanya sedikit saya sangat bersyukur bisa mengetahui ilmu-ilmu yang sudah saya pelajari di ekskul-ekskul yang tak bertahan lama itu, Alhamdulillah.
Dan akhirnya saya pun kembali ke ekskul silat saya, dan saat itu saya sudah naik tingkat sabuk yang tadinya sabuk putih jadi sabuk kuning. Pada saat yang bersamaan setelah kenaikan sabuk itu, guru silat saya yang dipanggil Abah itu, mengajarkan sebuah gerakan yang diiringi dengan musik semamcam tarian gitulah. Dan entah kenapa saya mulai menyukai silat ini ketika diajarkan gerakan-gerakan yang menggunakan musik ini. Apakah memang minat saya di seni ya? Mungkin iya. Dan akhirnya saya pun mulai intens mengikuti latihan silat dengan penuh semangat. Jadi intinya, mencari sebuah minat itu sangat lah penting, tak peduli mau berapa komunitas kah atau golongan kah atau aliran kah yang kita pilih, asal kita benar-benar ingin mencari pasti akan dipertemukan oleh Yang Maha Pencipta.. Itu
No comments:
Post a Comment