Hari itu, hari yang biasa di Sahid. Tak ada makanan, uang tak ada, orang tua pun belum menjenguk. Saya terpaksa minta-minta makanan seperti pengemis dari kamar ke kamar yang lainnya. Tiba-tiba teman sekamar saya Bezzy lari-lari dari bawah langsung ke kamar dengan terburu-burunya mengambil pulpen dan uang. Saya pun menghampirinya "nte kenapa bez?" Tanya saya. "Ane lagi mau daftar ekskul karate nih" Jawabnya. Melihat temen saya ikut karate, ada keinginan juga saya untuk ikut karate lantaran saya belum memilih satu pun ekskul yang ada di Sahid. Lalu saya bertanya lagi kepadanya "ngambil formulirnya dimana bez?" Tanya lagi. "di lobi bawah ras" Jawabnya lagi. Langsung lah saya bergegas ke bawah untuk mengambil formulir itu. Sesampainya saya dibawah, saya tidak melihat apa-apa dan siapa-siapa. Tapi saya melihat dibagian gudang ada banyak orang, pikir saya mungkin disitu pengambilan formulirnya. Saya pun kesitu untuk mengambilnya, ketika saya lihat bacaannya Silat Padepokan Paku Banten, pikir saya mungkin ini adeknya dari karate ya. Betapa O2+Nnya diriku saat itu haha. Lalu saya isi saja formulir itu dengan semangatnya dan meminjam uang kepada teman untuk membayar kostum silatnya itu.
Hari Jumatnya ketika libur, setelah shalat shubuh dan muhaadatsah atau conversation tapi dengan bahasa arab, saya memulai ekskul pertama saya yang penuh dengan semangat yaitu Silat. Ustadz Izudin atau biasa dipanggil Abah adalah pengampu ekskul silat. Saat itu kita harus memulai pemanasan terlebih dahulu kemudian lari mengelilingi Sahid yang penuh dengan tanjakan dan batu-batuan kerikil dengan tidak memakai sandal. Bagi saya hal itu biasa-biasa saja ya, tapi ketika mulai berlari kaki saya sangat tidak nyaman sekali apalagi ketika berlari di jalan yang penuh batu kerikil sangat sakit sekali, tapi tidak bagi kakak-kakak kelas saya mereka berlari seakan mereka tidak merasakan sakit apapun, super sekali bukan. Lalu terakhir melewati tanjakan yang sangat curam yang membuat saya sangat lelah sekali. Yah lelah sekali. Setelah berlari saya dan teman seangkatan saya istirahat sejenak dan lalu Abah memberikan sedikit gerakan yang harus kami hapalkan untuk kenaikan sabuk nantinya. Yah bagiku tidak buruk juga meskipun bukan karate yang terpenting sama-sama bela diri, tapi aku yakin dengan adanya saya di bela diri silat saya bisa menyelamatkan dunia *Loh hahaha nggak bercanda aja.
No comments:
Post a Comment